Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on google
Google+
Share on telegram
Telegram

Sepatah Kata Terakhir

Karya : Ariel Fardian Aysel

Hari ini engkau pergi tinggalkan kami di dalam gubuk ini. Kau pergi bukan karena suatu pekerjaan tapi karena sebuah pertempuran. Kau relakan nyawamu demi kami, kami yang engkau sayangi. Ku sebenarnya tak rela jika kau pergi. Namun, kau selalu berpesan kepada kami bahwa kau kan kembali dan tak kan tinggalkan kami.

Janjimu itu sangat membuatku percaya. Dalam gubuk ini kami mendengar suara tembakan yang keras, suara hentakan kaki serta suara pedang yang saling bersentuhan. Ku kini larut dalam kesedihan takut kau tak kembali. Apakah hari ini kita dapat bertemu ataukah hari ini hari terakhir kita kan bertemu.

Hari semakin sore. Namun, kau tak kunjung kembali. Apakah benar, hari ini kau akan pergi selama nya ? Hati ini semakin hancur, mengingat akan kenangan bersama mu. Kenangan akan tawa bersamamu. Tak ada sepatah kata pun yang dapat menggambarkan kebaikan hatimu.

Suara ketukan pintu mulai terdengar, Aku pun bergegas berlari. Kubuka pintu itu dan melihat Ia sudah terkapar dalam keadaan penuh luka darah. Aku pun duduk memangku nya sambil terus meneteskan air mata. Seluruh penghuni rumah datang, mereka mencoba membawanya masuk kedalam rumah.

Disana dengan kondisi yang sangat lemah, Ia mecoba berkata “Anak-anak ku, seperti nya Aku sudah tidak kuat lagi. Oh istriku tolong jaga mereka, jangan biarkan muka sedih dan airmata ada dikehidupan mereka.” Ia pun mulai memejamkan mata nya. Kami terus menangis Aku sungguh kecewa akan diriku karena tak bisa menjaga nya, orang tercinta kami. Ia adalah sosok penjaga kami, Ia adalah Ayah ku.

Mulai detik ini sosok nya tak kan pernah ada lagi. Sekarang Ia sudah pergi, bukan untuk sehari atau sebulan. Tapi, selama nya hatiku semakin hancur tubuh ku bergetar. Namun, ini adalah takdir. Takdir yang tidak dapat diubah bahkan oleh raja sekalipun.

Kini Aku hanya bisa berjanji untuk merelakan kepergiannya. Kini sebagai anak lelaki tertua Aku akan menggantikan posisi nya sebagai pelindung keluarga. Meskipun hujan badai datang, Aku akan tatap berada di depan mereka. Melindungi mereka dan tak kan pernah putus asa. Meski nyawa ini melayang, Aku akan rela demi keselamatan orang tercinta yang Aku miliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *