MTsN 1 Lumajang melaksanakan Upacara Bendera Memperingati Hari Kartini di ikuti oleh seluruh siswa siswi, guru, serta karyawan.
Dimana yg bertugas sebagai pembina upacara Ibu Widatuz Zuhriyah,S.Pd. beliau selaku kurikulum.

Beliau menyampaikan amanatnya bahwa Ibu kita Kartini Lahir di Jepara pada 21 April 1879, Raden Ajeng Kartini tumbuh sebagai putri bangsawan Jawa yang hidup di tengah keterbatasan adat. Meski sempat merasakan pendidikan formal, ia harus menjalani masa pingitan sesuai tradisi. Namun, semangat belajarnya tak pernah padam. Kartini banyak membaca buku dan menjalin korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa. Dari sanalah lahir gagasan-gagasan besar tentang emansipasi perempuan, pendidikan, dan kemajuan bangsa. Setelah wafatnya, surat-surat Kartini dihimpun oleh J.H. Abendanon menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini menjadi simbol kebangkitan perempuan Indonesia untuk keluar dari keterbatasan menuju masa depan yang lebih cerah.
Semangat memperjuangkan keadilan juga tercermin dalam kisah Khaulah binti Tsa’labah, seorang perempuan pada masa Rasulullah SAW. Ia menghadapi ketidakadilan ketika suaminya mengucapkan zihar, sebuah tradisi Arab yang menyamakan istri dengan ibu, sehingga tidak dapat digauli namun juga tidak diceraikan. Khaulah tidak tinggal diam; ia mengadukan permasalahannya kepada Rasulullah dan memohon keadilan kepada Allah. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah ayat 1-4, di mana Allah menegaskan bahwa Dia mendengar pengaduan Khaulah dan memberikan solusi hukum yang adil, yakni kewajiban kafarat bagi suaminya.

Kedua kisah ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki suara dan kekuatan untuk memperjuangkan haknya. Baik Kartini maupun Khaulah menjadi teladan bahwa perubahan lahir dari keberanian berbicara dan keyakinan akan keadilan. Dari gelap menuju terang, dari ketidakadilan menuju keadilan, perempuan mampu menjadi pelopor perubahan dalam masyarakat.
Di masa emansipasi yang kedudukan wanita sudah setara dengan kaum adam. Kita harus memaknainya dengan bijak yaitu menggunakan sesuai dengan kondratnya tanpa meninggalkan hakikat sebagai perempuan yang mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan lelaki. Hal yang membedakan antara perempuan dan lelaki hanyalah nilai ketakwaannya di hadapan Allah SWT dan kita harus mampu memperjuangkan setiap tindakan kita baik kebaikan maupun keburukan. Hal ini selaras pula dengan kandungan Al Quran Surat Al Zalzalah ayat 7-8.
beliau juga menambahkan pesan dalam amanatnya kepada para peserta didik yang pertama agar dapat tingkatkan amalan ibadah kita terutama perbaiki sholat kita maka Allah SWT akan memperbaiki kehidupan kita. Ali Bin Abi Tholib pernah berkata bahwa Seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri dalam sholatnya maksud yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah hendaklah kita memperbaiki sholat kita, bacaannya, gerakannya, hendaklah kita lebih khusuk dan memahami setiap bacaan sholat beserta artinya. Janganlah gerakan sholat kita terutama ketika rukuk dan sujud hanya menyerupai gerakan seperti ayam yang mematok makanannnya di pagi hari cepat dan tanpa bekas.
Hal kedua yang perlu kita perbaiki adalah kebersihan lingkungan madrasah. Kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama baik guru, karyawan, peserta didik, maupun petugas kebersihan. Orang yang tidak memperhatikan kebersihan sama halnya menunjukkan kurangnya iman di dalam dada mereka. Mari jadikan madrasah tercinta kita menjadi madrasah yang sehat, bersih, dan nyaman.